SBN adalah: Jenis, Cara Beli, dan Istilah-Istilah Penting dalam SBN

Apa Itu SBN: Jenis, Cara Beli, dan Istilah-Istilah Penting dalam SBN

Ikut berinvestasi untuk negara, apa mungkin? Ya, tapi kenyataannya bisa, kok! Yaitu lewat SBN. Apa itu SBN? Nah, biar lebih jelas, yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Apa itu SBN?

SBN adalah singkatan Surat Berharga Negara, produk investasi yang diterbitkan oleh pemerintah untuk membiayai kebutuhan anggaran negara. Jadi intinya, dana investasi kamu akan digunakan untuk proyek-proyek pembangunan negara. 

Melalui investasi SBN, kamu meminjamkan uang kepada pemerintah untuk memperoleh imbal hasil berupa kupon. Besar nilai kupon akan mengikuti suku bunga acuan Bank Indonesia, yang diumumkan jelang masa penawaran. 

Tapi kenapa, sih, pemerintah kita butuh dana investasi dari penduduknya? Ya, Indonesia setiap tahun punya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tapi biasanya, kebutuhan belanja negara lebih besar dari anggarannya sendiri, sehingga butuh tambahan dana (utang) dari masyarakat. 

Oleh karena itu, pemerintah menerbitkan SBN. Ketimbang berutang ke luar negeri, lebih baik berutang ke warganya sendiri. 

Kenapa? Ya, agar lebih terjaga dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing, untuk menumbuhkan “sense of belonging” penduduk terhadap proyek-proyek pembangunan negaranya sendiri, sekaligus mengedukasi masyarakat untuk berinvestasi jangka panjang.       

Keuntungan berinvestasi di SBN

Ada beberapa keuntungan yang bisa kamu peroleh sebagai investor di SBN, yaitu:

  1. Pembayaran pokok utang dan kuponnya dijamin oleh Undang-Undang atau negara.
  2. Imbal hasil berupa kupon nilainya lebih tinggi dari rata-rata bunga deposito bank BUMN.
  3. Pajak investasi SBN lebih rendah, yaitu hanya 10%, ketimbang pajak deposito yang mencapai 20%.
  4. Kupon SBN dibayarkan di tanggal yang sama setiap bulan (sampai waktu jatuh tempo), dan bisa menjadi sumber passive income
  5. Produk SBN juga bisa diperdagangkan di pasar sekunder untuk memperoleh potensi capital gain

Sehingga dapat disimpulkan bahwa SBN cocok dipilih bagi investor yang mencari investasi rendah risiko (aman), tenor investasi menengah hingga panjang (2 – 6 tahun), dan ingin mendapatkan passive income secara berkala.  

Jenis-jenis SBN di Indonesia

Surat Berharga Negara terdiri dari dua jenis produk, yaitu SUN (Surat Utang Negara) dan SBSN (Surat Berharga Syariah Negara)

Surat Utang Negara (SUN)

SUN adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang. SUN merupakan instrumen investasi yang dikelola secara konvensional, sehingga tidak ada fatwa syariahnya (pernyataan halal). Dasar hukum yang berlaku untuk SUN adalah UU No. 24 Tahun 2002.

Lalu, penerbitan SUN tidak membutuhkan aset yang mendasari (underlying asset). Sehingga ketika kamu berinvestasi pada SUN, kamu akan mendapat surat pengakuan utang. Yang artinya, imbal hasil atau kupon yang kamu terima dari SUN berupa bunga

SUN dibagi lagi menjadi SUN Ritel dan SUN Lainnya

SUN Ritel   

Pada proses penjualannya, SUN Ritel ditawarkan pertama kali pada pasar perdana, secara langsung kepada investor individu yang merupakan warga negara Indonesia melalui Mitra Distribusi yang sudah ditunjuk oleh pemerintah. 

Contoh produk SUN Ritel seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) dan Savings Bond Retail (SBR).

Baca juga: SBN: Perbedaan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Savings Bond Ritel (SBR) 

SUN Lainnya

Umumnya, SUN Lainnya ditawarkan pertama kali melalui lelang yang bisa diikuti peserta lelang yang telah memenuhi persyaratan. Peserta lelang adalah pihak Bank atau Perusahaan Efek yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. 

Baru setelah itu, peserta lelang (sebagai agen penjual) bisa menjualnya kepada masyarakat (investor ritel) di pasar sekunder.

Contoh produk SUN Lainnya seperti Fixed Rate Reguler (FR), Variable Rate Reguler (VR), dan Zero Coupon Bonds

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)  

SBSN adalah surat berharga yang berupa penyertaan aset dan diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. Sehingga SBSN harus memiliki aset yang mendasarinya untuk bisa diterbitkan. 

Misal untuk pembangunan aset jalan tol, jalan raya, atau proyek pembangunan lainnya. Nanti saat kamu berinvestasi di SBSN, kamu akan mendapatkan surat pernyataan kepemilikan atas aset negara tersebut. Sehingga imbal hasil yang kamu terima dari SBSN berupa uang sewa (ujrah) tiap bulannya. 

SBSN yang dikelola secara syariah, pengelolaannya harus mengikuti prinsip-prinsip syariah. Seperti penyaluran dana investasi untuk sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, tidak boleh mengandung unsur maysir (judi), gharar (ketidakpastian), dan riba. 

Dasar hukum yang berlaku untuk SBSN adalah UU No. 19 Tahun 2008, yang juga didasari oleh fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN – MUI).   

SBSN dibagi lagi menjadi SBSN Ritel dan SBSN Lainnya

SBSN Ritel

Sama seperti SUN Ritel, SBSN Ritel ditawarkan pemerintah melalui Mitra Distribusi (Midis) dan bisa dibeli secara online melalui platform yang disediakan oleh Midis.

Contoh produk SBSN Ritel seperti Sukuk Tabungan (ST) dan Sukuk Ritel (SR).  

Baca juga: Cari Tahu Tentang Perbedaan Sukuk Tabungan dan Sukuk Ritel

SBSN Lainnya

Sama seperti SUN Lainnya, SBSN Lainnya juga bisa dibeli investor ritel di pasar sekunder. Dana investasi SBSN Lainnya akan ditujukan untuk membiayai proyek-proyek pemerintah yang berdampak positif pada masyarakat.

Contoh produk SBSN Lainnya seperti Project Based Sukuk dan Islamic Fixed Rate.  

Istilah-istilah dalam SBN

Beberapa istilah yang sering digunakan ketika kamu berinvestasi di SBN, yaitu:

Kupon

Kupon adalah nama lain yang digunakan untuk menyebut imbal hasil yang dibayarkan kepada investor SBN. Penetapan nilai kupon mengacu pada suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-7 Day Reverse Repo Rate).

Kupon dihitung dalam persentase per tahun yang akan dikalikan dengan nominal pokok utang. Pembayaran kupon sendiri dilakukan secara termin tiap bulan di tanggal yang sama.     

Floating with floor

Floating with floor adalah istilah yang menunjukkan nilai kupon mengambang dengan kupon minimal. Seperti produk Sukuk Tabungan (ST) dan Saving Bond Ritel (SBR), menggunakan ketentuan kupon floating with floor

Misal, bila ditetapkan nilai kupon sebesar 6,30% per tahun, saat suku bunga acuan BI naik, nilai kupon ikut naik. Sedangkan, saat suku bunga acuan BI turun, nilai kupon tidak akan berada di bawah 6,30%.  

Periode setelmen

Setelmen adalah tanggal penyelesaian. Artinya, pada tanggal tersebut, seseorang yang telah memesan suatu produk SBN, resmi menjadi investor dan perhitungan kupon pun sudah dimulai.  

Early redemption

Early redemption merupakan fasilitas bagi investor yang ingin mencairkan sebagian dana investasinya (maksimal 50%) sebelum waktu jatuh tempo. Fasilitas ini hanya berlaku untuk produk SBN yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder (non tradable). Contohnya adalah Sukuk Tabungan (ST) dan Saving Bond Ritel (SBR). 

Periode early redemption pada jangka waktu investasi dua tahun, akan dilakukan setelah satu tahun berjalan. Sedangkan, untuk jangka waktu investasi empat tahun, baru akan dilakukan setelah dua tahun berjalan. 

Nah, jika kamu ingin mengetahui istilah-istilah lain dalam SBN, bisa cek juga artikel: Apa Itu SBN Ritel? Berikut Pengertian dan Penjelasannya.

Itu tadi ulasan seputar SBN, mulai dari keuntungan, jenis, dan istilah-istilah yang biasa dipakai dalam SBN. Semoga bermanfaat dan kamu bisa jadi lebih bijak saat berinvestasi. 

Referensi:

Bibit. 19 Januari 2023. SBN Konvensional dan Syariah, Apa Bedanya?. Youtube.com: https://www.youtube.com/watch?v=iJuwU-3mZp4

Bibit. 19 Januari 2023. Apa Itu SBN dan Keuntungannya?. Youtube.com: https://www.youtube.com/watch?v=oHd8X1TKqFw