Tujuan Finansial

Generasi Milenial Merdeka Finansial

Menjadi bagian dari generasi milenial merupakan suatu tantangan sekaligus hak istimewa yang dimiliki orang-orang kelahiran tahun 1981 hingga 1996[1]. Kelompok yang juga disebut Generasi Y ini juga lebih sering dikenal dari karakteristik negatifnya. Milenial sering disebut dengan generasi pemalas, generasi yang tidak menghormati orang tua, generasi tukang pindah kerja, atau generasi yang memiliki ketergantungan tinggi pada teknologi. Beragam gaya hidup dan problematika yang dihadapi oleh kaum milenial seringkali menjadi bahan cemoohan generasi pendahulunya. Meskipun demikian, tidak bisa disangkal bahwa generasi milenial merupakan generasi penerus. Jauh setelah generasi X dan baby boomers meninggalkan dunia kerja, siapa lagi kalau bukan milenial yang akan menjadi penggerak ekonomi dunia?

Kendati demikian, generasi yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi dunia di masa depan kini bisa dibilang sedang mengalami cobaan ekonomi terberat sepanjang hidup mereka. Sebelum mencapai usia 40 tahun, generasi milenial sudah mengalami tiga peristiwa besar dunia yang mengancam perkembangan ekonomi dan finansial.

Generasi Sandwich

Istilah generasi sandwich pertama kali dikemukakan oleh pekerja sosial Dorothy Miller pada tahun 1981. Istilah ini mengacu kepada orang-orang paruh baya yang ‘terjepit’ atau sandwiched kebutuhan ekonomi antara pemenuhan ekonomi pribadi dan pemenuhan ekonomi orang tua atau generasi terdahulu. Berdasarkan penelitian Lembaga Demografi UI pada bulan November 2017[2], usia median perkawinan pertama bagi laki-laki Indonesia berkisar di angka 27,5 tahun. Sementara untuk usia perempuan berada di angka 23,4 tahun. Hal ini berarti di tahun 2020, kebanyakan generasi milenial sudah memiliki atau sedang dalam proses membangun keluarga mereka.

Di sisi lain, menurut data BPS pada tahun 2019[3], sebanyak 79,91% rumah tangga lansia memperoleh pembiayaan dari anggota rumah tangga yang bekerja. Hanya sedikit (7,59%) dari pengeluaran lansia yang ditopang dari dana pensiun dan investasi. Oleh karenanya, milenial perlu bekerja lebih keras atau memperoleh penghasilan tambahan untuk memenuhi dua pilar kebutuhan ekonomi: pribadi dan orang tua. Malangnya, potensi berulangnya fenomena generasi sandwich bagi generasi penerus milenial sangatlah tinggi apabila milenial mengabaikan investasi dini untuk persiapan pensiun.

Krisis Ekonomi

Selain dari makin dalamnya keterjepitan generasi milenial yang disebabkan oleh berkurangnya produktivitas usia lansia, generasi ini juga dikaruniai dua hadiah krisis ekonomi sebelum mencapai usia kerja. Pada krisis finansial Asia di tahun 1998, Indonesia sedang berada di penghujung era Orde Baru yang ditandai dengan penggulingan Presiden Soeharto dari jabatan kepemimpinan negara Republik Indonesia. Kerusuhan yang terjadi di seluruh tanah air pada masa itu mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi tajam di angka -13,13%[4] setelah pada tahun sebelumnya mengalami 4,7% pertumbuhan ekonomi.

Penurunan ekonomi tajam 20 tahun yang lalu masih berimbas pada pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini. Katadata, melalui sumber Badan Pusat Statistik, mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca era reformasi berkisar di angka 5% padahal pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 1981 hingga 1996 (tahun kelahiran milenial) berada di kisaran 6%. Penurunan pertumbuhan ekonomi antara lain berdampak pada penetapan upah dasar dan perhitungan inflasi. Sederhananya, tingkat penghasilan milenial yang menurun digabungkan dengan harga kebutuhan hidup yang terus naik menyebabkan menipisnya daya beli milenial terhadap pemenuhan kebutuhan, terutama sebagai bagian dari generasi sandwich.

Resesi ekonomi kedua yang dialami generasi milenial merupakan resesi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 pada awal tahun 2020 lalu. Kehadiran virus SARS-CoV-2 yang mematikan membuat pemerintah Republik Indonesia mengambil beberapa kebijakan untuk meminimalisir mobilitas masyarakat dengan harapan menghentikan laju penularan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan oleh beberapa daerah menyebabkan tutupnya beberapa bidang usaha seperti perhotelan, restoran, tempat hiburan, tempat wisata, dan beberapa area lain yang biasanya menunjang pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi menjadi lesu, banyak usaha kecil dan menengah yang harus merumahkan karyawan, melakukan pemberhentian kerja, bahkan gulung tikar karena kehilangan pemasukan.

Dalam situasi ekonomi yang hingga kini masih tak menentu, penting bagi milenial untuk melakukan perencanaan keuangan dini agar dapat memiliki kemerdekaan finansial dan tidak menggantungkan hidup pada hasil pekerjaan kantor saja.

Pandemi COVID-19

Memasuki bulan ketujuh dalam masa PSBB berikut transisinya, pandemi COVID-19 masih merajalela di Indonesia. Angka penularan dan kematian masih belum bisa dikatakan aman sesuai standar WHO (World Health Organization). Tingginya angka penularan berimbas perpanjangan PSBB dan masa transisi untuk memperketat pergerakan masyarakat. Sebagai akibatnya, banyak usaha dari berbagai industri terpaksa memindahkan eksistensinya ke platform digital demi keberlangsungan bisnis.

Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru saja terjadi. Sebaliknya, ekonomi digital Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara menurut pernyataan Presiden Joko Widodo pada Digital Economy Summit Februari lalu[5]. Indonesia juga diproyeksikan akan menduduki peringkat pertama se-Asia Tenggara di tahun 2025 dengan nilai ekonomi digital sebesar 133 miliar dolar Amerika atau setara 1.826 triliun rupiah.

Sebagai bagian dari generasi teknologi dan internet, milenial tentu memiliki partisipasi penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital. Tidak hanya transaksi konsumtif (jual-beli) yang dilakukan secara online, layanan transaksi produktif (pinjam meminjam, pengembangan dana, dan investasi) pun dihadirkan oleh perusahaan startup finansial teknologi maupun bank konvensional untuk mendukung peran aktif milenial sebagai penggerak roda ekonomi masa depan.

Generasi Penggerak Ekonomi

Populasi milenial di Indonesia diprediksi akan segera menggantikan generasi X dalam beberapa tahun mendatang seiring masuknya generasi X ke dalam usia pensiun.  Keberadaan pandemi COVID-19 dan PSBB membuat lonjakan aktivitas online yang sebelum ini sudah dilakukan sehari-hari oleh milenial. Sebagai generasi yang juga sering dikenal dengan digital native, milenial memiliki kesempatan besar untuk memajukan ekonomi digital Indonesia.

Meski demikian, kebanyakan aktivitas digital milenial masih berfokus pada aktivitas konsumtif seperti: membeli barang secara online, membeli produk digital, atau menggunakan transportasi online. Semua aktivitas tersebut, meskipun ikut berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, perlu diimbangi dengan aktivitas yang bersifat produktif agar milenial tidak kehilangan kesempatan untuk menjadi merdeka finansial dan bebas dari himpitan ekonomi keluarga. Terlebih lagi, aktivitas produktif dapat juga membuka lapangan kerja baru sehingga turut mendorong kesejahteraan masyarakat.

Generasi Merdeka Finansial

Peningkatan populasi milenial di Indonesia juga berdampak pada meningkatnya angka investor muda di bawah 40 tahun. Data Bursa Efek Indonesia menyatakan sebanyak 70% investor muda telah menguasai pasar modal dalam kurun waktu 2016 hingga 2020[6]. Meski demikian, literasi finansial di kalangan masyarakat Indonesia masih cukup rendah yakni di angka 38,03%. Hal ini mengakibatkan banyaknya milenial yang terjebak dalam skema investasi bodong atau mengalami kehilangan modal akibat melakukan investasi di instrumen-instrumen yang tidak mereka pahami.

Investree, sebagai salah satu penyedia layanan finansial non-bank, secara berkala mengadakan webinar, podcast, maupun unggahan di media sosial dan blog yang bertujuan memberikan edukasi finansial kepada para milenial. Informasi mengenai jenis produk pinjam meminjam, instrumen investasi reksadana, maupun surat berharga negara dipaparkan dengan jelas dan lengkap pada website Investree.

Beragam produk pengembangan dana yang ada di Investree juga dapat diakses dengan mudah oleh investor muda melalui smartphone agar transaksi dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja selama terkoneksi dengan internet. Adapun ragam produk disediakan oleh Investree agar investor muda terdorong untuk melakukan diversifikasi sebagai upaya meminimalisasi resiko kehilangan modal pada satu produk.

Produk pinjaman, sebagai produk utama yang ditawarkan oleh Investree kepada para Lender, merupakan pinjaman produktif yang diajukan oleh UKM. Pinjaman tersebut biasanya digunakan untuk keberlangsungan operasional perusahaan, ekspansi bisnis, atau pembelian aset tambahan. Dengan berpartisipasi sebagai pendana di satu atau lebih pinjaman, Lender Investree telah turut membantu perkembangan bisnis lebih dari 1.000 pengusaha UKM sambil memperoleh pengembalian pinjaman beserta bunga. Apabila dilakukan dengan rutin, dalam 10 tahun mendatang, bukan tidak mungkin generasi milenial yang saat ini terhimpit banyak tuntutan finansial bisa berubah menjadi generasi

Referensi:

[1] Defining generations: Where Millennials end and Generation Z begins, Michael DImock, Pew Research

[2] Studi Tren Usia Perkawinan Pertama di Indonesia, Muhammad Isa, Lembaga Demografi FEB UI

[3] Statistik Penduduk Lanjut Usia 2019, Badan Pusat Statistik

[4] Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sejak 1961, Katadata.co.id

[5] Jokowi: Ekonomi Digital Indonesia Terbesar di Asia Tenggara, Kompas.com

[6] Data BEI: Investor Milenial Usia di Bawah 40 Tahun Kuasai 70 Persen Pasar Modal, Merdeka.com

Share this Post