Tujuan Finansial

Dukung Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Yuk, Kenalan dengan Green Financing!

Apa, sih, itu green financing? Ya, istilah ini sudah mulai sering terdengar di telinga kita. Green financing merujuk pada pembiayaan yang ditujukan untuk pembangunan proyek berkelanjutan, produk lingkungan, atau kebijakan yang mendorong pengembangan ekonomi berkelanjutan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Pricewaterhouse Coopers Consultants (PWC) tentang implementasi green financing di China tahun 2013, green financing merupakan produk dan jasa keuangan yang melibatkan faktor lingkungan dalam pengambilan keputusan kredit agar dapat mendorong terciptanya teknologi ramah lingkungan bagi proyek industri dan bisnis. 

Green financing sendiri terdiri dari 4 dimensi, yaitu:

  1. Mencapai keunggulan industri, sosial, dan ekonomi dalam rangka mengurangi ancaman pemanasan global dan mencegah permasalahan lingkungan hidup dan sosial lainnya.
  2. Memiliki tujuan pada terwujudnya ekonomi rendah karbon yang kompetitif.
  3. Secara strategis mempromosikan investasi ramah lingkungan hidup di berbagai sektor usaha/ekonomi.
  4. Mendukung prinsip-prinsip pembangunan Indonesia 4P (pro-growth, pro-jobs, pro-poor, dan pro-environment).

Tapi sebenarnya, apa manfaat dan bagaimana implementasi green financing sendiri di Indonesia? Berikut Investree punya jawabannya untuk Anda. Simak, yuk!

Mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan

Green financing memiliki manfaat mendukung akselerasi perwujudan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kira-kira dari 17 tujuan pada SDGs, green financing bermanfaat mencapai tujuan/goals mana saja? Yang pertama adalah goal  poin 13, yaitu Climate Action (penanganan perubahan iklim). Di mana green financing memiliki konsep yang jelas untuk mendorong investasi ramah lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Sebut saja produk green bond atau obligasi hijau yang khusus mengalokasikan penyaluran investasi untuk proyek, misalnya efisiensi energi, pencegahan polusi, pertanian berkelanjutan, perikanan dan kehutanan, transportasi hijau, serta pengelolaan air berkelanjutan. 

Tidak hanya itu, melalui produk green sukuk (sukuk hijau) yang diadaptasi dari green bond, yang telah dikeluarkan pemerintah sejak tahun 2018 lalu, menempatkan dana investasi yang berhasil terkumpul paling banyak ke sektor Sustainable Transport. Selain itu, juga ke proyek-proyek yang ditujukan untuk mempersiapkan berbagai wilayah di Indonesia dari ancaman bencana banjir akibat fenomena climate change. Produk sukuk hijau dinilai juga memiliki kontribusi pada tujuan SDGs poin 11 (Sustainable Cities and Communities) karena dapat mempersiapkan wilayah-wilayah di Indonesia untuk memiliki ketahanan jangka panjang, dan poin 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) yang dapat menghasilkan pertumbuhan industri, inovasi dan infrastruktur yang selaras.   

Indonesia tercatat telah menerbitkan 6 obligasi hijau dan sukuk hijau dengan nilai Rp51,8 triliun. Serta, untuk mendukung stimulus hijau agar Indonesia dapat mencapai target iklimnya di tahun 2020-2024, Indonesia membutuhkan pendanaan dengan total Rp260 triliun per tahun. Karena itu, butuh bantuan sektor swasta juga untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Implementasi green financing oleh Investree

Sejalan dengan itu, penerapan green financing juga dilakukan oleh Investree melalui penyaluran pembiayaan ke salah satu dealer motor listrik Gesits Bali Pratama. Turut mendukung terciptanya pendanaan berkelanjutan yang berdampak pada kelestarian lingkungan. Di mana Indonesia masuk kategori penyumbang emisi karbon global sebanyak 0,5 miliar metrik ton. Angka ini bisa dikurangi mulai dari penggunaan kendaraan bertenaga listrik yang ramah lingkungan. 

Gesits Bali Pratama sebagai salah satu distributor terbesar Wika Industri Manufaktur (WIMA), produsen motor listrik di Indonesia, juga menerima permintaan yang kian bertambah sejalan dengan makin sadarnya masyarakat oleh isu lingkungan. Mereka mulai memilih teknologi ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon di dalam negeri. Di sini Investree hadir memberikan dana talangan untuk down payment kepada produsen motor listrik (WIMA) saat Gesits menerima pesanan unit dalam jumlah tertentu. Atau, pendanaan untuk membiayai pengiriman unit motor ke tempat tujuan. Investree berharap, dengan adanya akses pembiayaan ke industri ramah lingkungan dapat meningkatkan kualitas ekonomi dan kehidupan masyarakat, memberi dampak sosial berkelanjutan, serta ikut mewujudkan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Selain itu,  Investree memperoleh kucuran dana sebesar USD 10 juta dari responsAbility Investments, manajer aset dari Swiss yang berfokus secara eksklusif pada investasi berkelanjutan. Dalam hal ini, responsAbility merupakan mitra investor dari salah satu Lender Institusi Investree yang berasal dari Amerika, Accial Capital. Dana yang diberikan oleh responsAbility dan Accial Capital kepada Investree ini akan digunakan untuk membiayai kebutuhan pembiayaan yang diajukan oleh Borrower atau pelaku UKM Investree. Bagi responsAbility, menyalurkan pendanaan kepada Investree berarti secara langsung berkontribusi terhadap SDGs PBB, kaitannya dengan akses keuangan terbatas untuk UKM yang membatasi penciptaan lapangan kerja, memicu ketidaksetaraan, dan menghambat pembangunan ekonomi.

Ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah, pihak swasta sampai individu pun diharapkan partisipasinya. Mengurangi sampah plastik, penggunaan kemasan produk yang ramah lingkungan, sampai memilih investasi yang ditujukan ke proyek pelestarian lingkungan, semoga bisa menjadi langkah awal bagi kita untuk turut berpartisipasi. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?

Referensi:

Aziz Rahardyan. 7 November 2021. Investree Gandeng Dealer Motor Listrik Gesits, Mau Bikin Apa?. Bisnis.com: https://bit.ly/2ZyJKyW

Fitria Rahmadianti. 16 Februari 2021. Sustainable Development Goals dan Hubungannya dengan Green Bond. Nusantics.com: https://bit.ly/3190OMo

Maurizka, Farouk, dan Prameswara. Peran Green Sukuk dalam Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan. Jurnal.umj.ac.id: https://bit.ly/3FTBby9

Eri Hariyanto, Widyaiswara Ahli Madya Pusdiklat Keuangan Umum BPPK. Green Financing, Sukuk Negara dan Pembangunan Berkelanjutan. Kemenkeu.go.id: https://bit.ly/3cWumzo

Share this Post

Artikel Terbaru